“ Bangun putri tidur ! “ suara ayah membangunkan Okta. “ Sudah waktunya berangkat ke sekolah ! “ jelas ayah sambil membuka tirai jendela kamar Okta.
Oktapun mulai membuka matanya. Ia pun teringat bahwa hari ini adalah hari pertamanya masuk ke sekolah setelah liburan Idul Fitri. “ Kenapa libuan begitu cepat berlalu sih “ gerutu Okta sabil mencoba beranjak dari ranjangnya yang nyaman.
“ Hei, apakah liburan selama dua minggu kurang bagimu ? Cepat segera mandi ! Jangan lupa salat lalu makan ! “ tegas ayah saat melihat Okta yang sedang menguap dan mengusap – ngusap matanya.
“ Iya, Tuan !” jawab Okta dengan menggunakan nada sedikit mengejek. Dia pun bergegas turun menuju kamar mandi yang berada disamping dapur. “ Ma, tolong siapkan sarapan dengan menu seperti biasa, ya ! “
“ Apakah kau tidak bosan ? Setiap pagi selalu saja roti dengan selai kacang. “ kata mama sambil berharap agar Okta bersedia mengganti menu sarapannya.
“ Tidak ! “ jawab Okta langsung tanpa basa – basi. Roti dengan selai kacang adalah hidangan wajib baginya untuk sarapan. Pernah terjadi sekali. Waktu itu mamanya mengganti menu sarapan paginya. Akhirnya di sekolah ia tidak bisa konsentrasi dan tidak punya semangat.
Setelah ia selesai berpakaian rapi, ia segera menyantap sarapan favoritnya. Tak lupa ia membaca do’a sebelum makan. “ Selamat makan !! “. Dia memakan roti itu seperti belum pernah memakannya sebelumnya.
“ Okta, cepatlah sedikit ! Ayah sudah siap !” teriak ayah sambil menyalakan mesin mobil. “ Iya ayah, sebentar lagi selesai. “
Okta pun bergegas minum, lalu berlari mengambil tasnya. “ Assalammualaikum, Ma “ teriak Okta karena tak bisa mencium tangan mamanya yang sedang memotong daging. “ Wallaikumsalam ! ” balas mamanya.
Sebenarnya jarak dari rumah Okta ke sekolah tidak terlalu jauh. Hanya saja ayahnya terlalu protektif terhadap Okta. Maklum saja karena Okta adalah anak tunggal..
Sesampainya di sekolah, Okta melihat Roy dan Vivi yang sedang berbincang di depan pintu gerbang. Ia pun segera mencium tangan ayahnya dan beranjak keluar.
“ Roy ! Vi ! “ teriak Okta yang membuat Roy dan Vivi kaget. Karena itu pula, kaca mata Roy hampir saja jatuh. “ Tidak usah seperti itu kenapa ? “ protes Roy sambil menghela nafas panjang.“ Iya nih, seperti orang yang sudah tidak bertemu selama dua tahun saja. “ sambung Vivi dengan memasang muka marah.
“ Iya deh, maaf. Kalian kan tahu aku ini orang seperti apa. “ pinta Okta untuk menenangkan suasana.
“ Baiklah. Permintaan maaf di terima. Sekarang ayo kita bergegas menuju ke kelas ! ”. ajak Roy sambil menggandeng tangan Okta dan Vivi.
Kelas mereka terletak di lantai dua yang jauh dari ruang guru dan ruang kepala sekolah. Sehingga saat guru tidak ada, mereka merasa bebas yang membuat kelas ramai. Ketua kelasnya saja juga senang saat tidak ada guru, sehingga dia tidak memanggil guru pengganti.
Setelah mereka tiba di kelas, kelas masih sepi. Hanya sedikit orang yang sudah hadir, seperti si kembar Hendri dan Hendru, Ari si ketua kelas, Winda dan dua anak baru bernama Ica dan Fahri.
Banyak anak yang mengatakan bahwa Ica dan Fahri tertukar kepribadiannya. Sepertinya hal itu memang benar. Buktinya gaya rambut Ica seperti anak laki – laki dan dia sering bertengkar. Sedangkan Fahri suka menggoyangkan pinggul saat berjalan dan terkadang dia memakai loshion saat anak – anak tidak sedang melihatnya.
Bel masuk berbunyi. Kelas yang semula sepi mendadak ramai dengan suara perbincangan anak – anak. Guru bahasa Indonesia pun masuk. Umurnya tidak terlalu tua, namun mungkin karena ia bekerja sangat keras, wajahnya tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
“ Selamat pagi, anak – anak ! “ sapa ibu Yayuk untuk mengawali pelajarannya.“ Selamat pagi, Bu ! “ jawab seluruh anak dengan lantang.
“ Baiklah, sebelum kita mulai pelajaran, mari kita berdo’a terlebih dahulu, berdo’a mulai ! “. Semua anak pun terdiam dan khusyuk berdo’a. Namun setelah kalimat “ Berdo’a selesai ! “ mereka langsung ramai kembali.
Bangku Roy, Okta dan Vivi sederet. Mereka melakukan itu karena bila ada tugas kelompok yang anggotanya satu deret bangku, mereka selalu bisa bersama.
“ Ya anak – anak… “ kata bu Yayuk berusaha manenangkan suasana. Tetapi dia tahu cara itu tidak akan berhasil. Akhirnya bu Yayuk hanya diam dan melihat ke luar jendela yang berada di samping bangkunya. Setelah itu akan ada beberapa anak yang berkata “ Hust ! “ , dan kelas pun tenang kembali. Cara itu selalu saja berhasil.
“ Kalian sebagai kelas tiga seharusnya tau saat….” dan bla, bla, bla, ceramah dari bu Yayuk yang di anggap angina lalu bagi anak – anak. Akhirnya ibu Yayuk mengakhiri ceramahnya karena dia piker anak – anak tersebut telah menyesal.
“ Ya, baiklah. Sekarang buka halaman dua puluh dua tentang memusikalisasi puisi. Tugas kalian adalah membuat kelompok dengan tiga anggota dan buat puisi dengan tema bebas untuk di tampilkan di depan kelas. “
Kelaspun menjadi ramai. Mereka saling mencari anggota, yang kebanyakan dari mereka mencari anak yang pintar agar mereka bisa “ titip nilai “. Tetapi tiga sekawan itu pasti dalam satu kelompok. Bahkan karena kedetannya, mereka sering di juluki tiga serangkai seperti KI Hajar Dewantara, Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangunkusumo.
“ Hei, gimana kalau kita ngerjainnya di rumahmu ? “ kata Okta sambil melihat ke arah Vivi. “ Ngapain ngeliatin aku ? Ehm.., kalian tau kan kalau rumahku itu sempit, berantakan… “
“ Hello , kita ngak membahas rumahmu ya ? “ potong Roy. “ Tidak masalah bagaiman keadaan rumahmu, yang penting ada meja dan ruang untuk kita kerja kelompok. Ada kan ? “
“ Baiklah. “ jawab Vivi pasrah.
“ Makasih ya, pipi tembem. “ kata Okta sambil mencubit kedua pipi Vivi yang tembem. Selain itu bibir Vivi yang sedikit memble membuat Okta semakin gemas padanya.
Tak terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13.00 dan bel berbunyi yangb menandakan sudah waktunya pulang. Anak – anak pun segera berkemas.
Roy, Okta dan Vivi berjalan keluar menuju koridor sekolah, turun dan akhirnya tiba di pintu gerbang. “ Sudah ada ayahmu tuh ! “ celetuk Vivi. “ Iya, cepet sana pulang. Nanti mamamu mencarimu loh ! “ ejek Roy yang sepertinya ingin Okta agar cepat pulang.
“ Iya, iya aku pulang. Jangan lupa besok kerja kelompok. “
“ Inggih, mbah. “ jawab Roy dan Vivi bersamaan dengan nada mengejek.
Okta segera berjalan menuju mobil bewarna merah yang terparkir di bawah pohon mangga di depan sekolah. “ Eh, tunggu ! “ teriak Roy menghentikan langkah Okta. “ Ada apa lagi ? “
“ Ini, hadiah ulang tahunmu. “ kata Roy sambil memberikan kado terbungkus rapi dengan kertas kado bewarna kuning dengan gambar Teddy Bear.
“ Hei, kamu ngantuk ya ? Ulang tahunku kan masih dua minggu lagi ? “
“ Udahlah, ngak apa – apa. Tapi kamu harus membuka kadonya besok. OK ? “ kata Roy sambil mengerlingkan mata.
“ Baiklah. Dah. “. Okta pun segera memasukkannya ke tas.
“ Ada apa, Ta ? “ tanya ayah saat Okta membuka pintu mobil di samping tempat duduk ayahnya. “ Itu, besok aku mau kerja kelompok bahasa Indonesia sama Roy dan Vivi.” jawab Okta sambil menutup pintu mobil, lalu menguncinya.
“ Di rumah siapa ? “
“ Vivi, sahabat baikku. “
“ Oh..” jawab ayah, pertanda sudah cukup puas dengan jawaban anaknya tersebut.
Ayah pun segera memutar kunci mobilnya. Di biarkan beberapa lama untuk memanasi mesin mobilnya. Setelah di rasa cukup, ayah segera memasukan ke gigi satu dan menancap gas. Okta melihat ke luar jendela, mencari apakah kedua sahabatnya masih ada di satu atau tidak.
Ternyata mereka masih di sana. Mereka sepertinya sedang berdiskusi tentang suatu hal. Tapi apa ? Apa yang mereka bicarakan ? Mengapa mereka tampak serius sekali ? Okta merasa penasaran dan berniat akan mencari tahu jawabannya besok.
Keesokan harinya, Okta segera menuju kelas. Pikirnya Vivid an Roy sudah datang lebih dulu. Tetapi dugaannya meleset. Dialah orang pertama yang masuk ke kelas hari itu.
Di tengah kesunyian kelas itu, muncul perasaan yang aneh pada dirinya. Tetapi ia tidak tahu perasaan apa itu. Akhirnya di tengah kegelisahannya, terdengar langkah kaki seseorang dari koridor menuju ke kelasnya.
Dag,dig, dug, debar jantung Okta semakin kencang, semakin kencang dan seakan berhenti saat muncul bayangan dari ambang pintu dan berkata “ Assalammualaikum, every body “. Ternyata Vivi !
“ Halo. Loh, kok muka kamu tegang banget sih ? “
“ Ya gara – gara kamu ! Ngagetin orang aja.” Okta terdiam sejenak sambil mengambil nafas panjang. “ Loh, kamu ngak bareng sama Roy ? “ tanya Okta kembali.
“ Tadi aku ke rumahnya, tapi kata mamanya dia tidak masuk karena sedang sakit. Tapi aku ngak di beri tahu sakit apa. “ jelas Okta
“ Oh “. Setelah dia mendengar hal itu, Okta lupa pada rasa penasarannya kemarin. Entah kenapa dia merasakan firasat yang tidak enak hari ini.
“ Ta, Okta. Kamu ngak apa – apa kan ? “ suara Vivi membubarkan lamunan Okta.
“ Eh, nagak pa – pa kok. “ jawab Okta agar sahabatnya tidak cemas padanya.
Sepulang sekolah mereka memutuskan untuk tidak jadi kerja kelompok. Okta yang telanjur bilang ke ayah akan kerja kelomok, terpaksa harus pulang berjalan kaki. Di sepanjang perjalanannya, ia bertanya – tanya, Ada apa dengan Roy ? Apa dia akan baik – baik saja ?
Pikiran itu terus melayang di pikirannya, sampai ia tersadar bahwa ia sudah sampai di depan rumah. Okta pun membuka pintu pagar yang bewarna hijau tersebut. Setelah ia membuka pintu depan, terdengar suara telepon berdering. Okta pun segera mengangkat telepon tersebut.
“ Ya, halo. “
“ Ini dengan nak Okta, ya ? Ini ibunya Roy. “ suara rintih itu terdengar sangat sedih.
“ I, iya, bu. Ada perlu apa ya dengan saya ? “ tanya Okta sopan.
“ Ya Allah, nak.., Roy.., Roy….” lalu ibu itu menangis
“ Iya, buk. Roy.., Roy kenapa ?” Tanya Okta semakin tidak sabar.
“ Roy meninggal ! “
Kata – kata itu berdengung kencang di hati Okta, bagaikan tersambar petir di siang bolong. Dia ingin sekali segera menangis saat itu, tetapi ia berusaha tegar sekuat tenaganya.
“ Lalu, Roy..,Roy… sekarang di mana, Bu ?”
“ Di rumah, nak. “
“ Baiklah, bu. Ibu tolong tunggu di sana. Assalamualaikum “ Okta segera menutup teleponnya. Tak kuat lagi rasanya menahan air matanya. Perlahan, air matanya menetes. Tetapi ia segera mengusap air matanya. Akhirnya tanpa piker panjang ia berangkat mengenakan seragam sekolah dan tasnya masih .
Dalam perjalanannya, ia hanya memikirkan Roy, Roy dan Roy, menulusuri memori yang pernah di lalui mereka bertiga, lebih dalam dan lebih dalam lagi. Lalu terlintas di benaknya “ Kenapa ya Allah ? Kenapa harus Roy, sahabatku ? Mengapa kau beri cobaan yang berat ini padaku ? Tak di rasa air matanya mengalir karena hal itu.
Sesampainya di rumah Roy, ia melihat banyak orang berpakaian hitam mengerumuni rumah Roy. Di dalam rumah, ia tak kuasa menahan tangis. Bagaimana tidak ? Sahabat baiknya yang dulu bersamanya, sekarang terbujur kaku di balut kain putih, terbaring tak bergerak dan wajahnya pucat. Di sekelilingnya terdapat orang – orang yang membacakan surat Yasin.
Siang itu, saat menuju ke pemakaman, langit pun menjadi mendung. Seakan turut berduka cita. Kaki Okta serasa berat untuk berjalan. Sesekali ia pun melihat ke arah keranda, benarkah itu Roy ?
Sebuah lubang, telah di siapkan sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir. Perlahan tapi pasti, mereka menurunkan jenazah Roy ke dalam sana. Andaikan saja waktu dapat di putar kembali, Okta ingin terus memutar waktu agar dapat selalu bersama – sama.
Setelah semua orang pergi, Okta teringat dengan kado yang di berikan Roy kemarin. Dengan terisak – isak dia membuka tas sekolahnya dan mengeluarkan kado tersebut. Di goyang – goyangkannya, untuk menebak apa isinya.
Di bukanya bungkus tersebut. Ternyata isinya kotak musik yang sudah lama di inginkannya selama ini. Air matanya pun kembali mengalir deras. “ Roy, kenapa kamu harus pergi meninggalkan aku ? Kenapa, Roy ? “
Rintik – rintik hujan dating menemani tangisan Okta, semakin deras dan semakin deras. Tetapi Okta tidak menghiraukannaya.
Tiba – tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. “ Sudah, Ta, sudah ! Kita tidak boleh meratapi kepergiannya. Kita malah akan memberatkannya jika kita meratapi Roy.” suara Vivi sambil menangis berusaha membujuk Okta untuk meninggalkan kuburan Roy.
“ Tetapi kenapa Vi ? Kenapa harus Roy ? “ balas Okta sambil melihat tajam ke arah Vivi.
“ Aku juga tidak tahu. Pasti Tuhan punya rencana bagi kita semua. Kita tidak bias merubah kehendak-Nya..”
Oktapun perlahan melepaskan tangannya dari kuburan Roy. Memang benar kata Vivi. Walaupun kita merencanakan, Tuhan lah yang menentukan. Dalam benaknya dia berkata :
Roy, sahabatku. Sekalipun kita berbeda alam, engkau tetap sahabatku. Aku akan selalu mengingatmu dan akan menyimpan kenangan tentangmu dalam memori terindah hidupku. Tenanglah engkau di alam sana, karena aku akan selalu mendo’akanmu.
Jumat, 22 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar